Tampilkan postingan dengan label passive income. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label passive income. Tampilkan semua postingan

20 Agustus, 2011

Meraih penghasilan pasif (passive income)

Saya ingin meraih kebebasan finansial sebelum menginjak usia 60 tahun dengan memiliki penghasilan pasif (passive income). Penghasilan pasif adalah penghasilan yang diperoleh secara terus menerus tanpa keharusan untuk bekerja mendapatkan uang, karena uang yang saya miliki telah ”bekerja” menghasilkan uang untuk saya.





Belajar sambil berbisnis

Sewaktu duduk di bangku SMA, saya mulai berkenalan dengan dunia bisnis namun cara berbisnis saya seperti perilaku seorang pekerja lepas (self employed). Saya menjajakan barang dagangan berupa kebutuhan hidup sehari-hari di toko kelontong milik orang tua. Barang yang dijual adalah sabun, sikat gigi, odol, parfum, obat, gula, kopi, teh, susu, dan sebagainya. Motivasi saya waktu itu adalah mengumpulkan tabungan untuk biaya kuliah di perguruan tinggi.

Setelah kuliah di perguruan tinggi, kebiasaan saya berbisnis terus tumbuh. Awalnya, saya mengambil program studi politik karena saya berniat menjadi politisi.Keadaan tahun 80-an kondisi politik sangat panas dengan banyaknya intimidasi bahkan kekerasan yang dilakukan rezim Soeharto terhadap mahasiswa dan membuat saya mengubah niat menjadi seorang pendidik.


Selama masa kuliah, saya berbisnis dengan cara menjajakan barang-barang cetakan, souvenir dan assesories kepada konsumen secara langsung. Di lain waktu, saya juga menawarkan jasa untuk mengerjakan proyek-proyek yang ditawarkan oleh teman-teman dan dosen untuk menambah penghasilan. Motivasi saya berbisnis adalah mencari penghasilan untuk menambah kiriman orang tua, sehingga mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bisa membayar biaya kuliah.


Menjadi pekerja dan pekerja lepas


Setelah lulus dari perguruan tinggi, tempat pertama yang saya incar sebagai lahan pengabdian adalah lembaga pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Motivasi saya adalah mencari pekerjaan. Awalnya, saya diminta oleh Profesor Tilaar untuk menjadi dosen di almamater saya, salah satu PTN di Jakarta, karena saya menjadi lulusan terbaik. Pada waktu itu ada kebijakan zero growth yang mengharuskan saya menunggu hingga ada dosen yang pensiun dahulu untuk bisa masuk sebagai dosen PTN dan saya tidak sabar menunggu. Nasib akhirnya membawa saya menjadi dosen juga di salah satu universitas swasta di Jakarta, menjadi seorang pekerja (employee)


Sebelum menjadi dosen, jabatan saya adalah Asisten Direktur salah satu program pendidikan di sebuah institut dengan gaji yang sangat tidak memuaskan. Saya tidak menyadari bahwa menjadi seorang pekerja memang tidak dapat mengharapkan kepuasan dari gaji yang diterima. Jumlah gaji seorang pekerja sudah ditentukan oleh pimpinan atau pemilik usaha, bahkan karena pada waktu itu lembaga tempat saya kerja belum mempunyai sistem penggajian yang bagus, akibatnya gaji yang saya terima sangat kecil dibandingkan dengan teman-teman se kantor yang jenjangnya relatif sama.


Untuk menambah penghasilan, saya mengajukan permohonan untuk menjadi pengajar di lembaga pendidikan tempat saya bekerja. Saya mencoba merintis karier di lembaga pendidikan dengan menduduki berbagai jabatan yang tersedia. Setelah lembaga pendidikan tempat saya bekerja dikembangkan menjadi Akademi dan Universitas, saya diangkat sebagai Pembantu Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan di Akademi tersebut. Perkembangan selanjutnya adalah, ketika dibentuk sebuah fakultas kesehatan, saya juga diangkat sebagai Pembantu Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan, demikian pula ketika dibentuk fakultas kesehatan lainnya, saya merangkap jabatan di kedua fakultas kesehatan tersebut.


Di bidang akademik, selain menjadi dosen di Akademi dan Universitas, saya juga pernah diangkat sebagai Ketua Peminatan dan Sekretaris Jurusan. Di bidang kemahasiswaan, saya mempunyai pengalaman sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan, membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rohani Islam dan UKM Korps Sukarela PMI.


Dalam merintis dan menapaki jalur karier, saya mendapat banyak pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, namun dari sisi finansial saya tidak mendapatkan hasil yang cukup berarti. Rumah yang saya tempati belum lunas, mobil yang saya pakai berasal dari hutang dan perabot-perabot lain yang saya miliki juga tidak seberapa.


Untuk mencapai keamanan finansial, saya mencari tambahan penghasilan dengan menyewakan mobil yang saya miliki, menjadi perantara dalam jual beli rumah dan menjadi instruktur dalam pelatihan-pelatihan manajemen. Sampai tahap ini, saya masih memposisikan diri saya sebagai karyawan dan dosen (employee) merangkap sebagai instruktur dan penjual jasa (self employed).


Merintis jadi pemilik bisnis dan investor


Saya berusaha meningkatkan motivasi saya dengan jalan merintis karier untuk menjadi pemilik usaha (business owner) dan investor guna meraih kebebasan finansial (financial freedom) sebelum menginjak usia 60 tahun. Saya berpendapat, kebebasan finansial terwujud jika saya sudah memiliki penghasilan pasif (passive income) yang mencukupi kebutuhan hidup.

Penghasilan pasif adalah penghasilan yang diperoleh secara terus menerus tanpa keharusan untuk bekerja mendapatkan uang, karena harta yang dimilikinya telah ”bekerja” menghasilkan uang untuk pemiliknya. Pada tahap ini, bekerja adalah sebagai pilihan dan bukan sebagai keharusan karena ingin mendapatkan penghasilan. Bekerja bukan untuk mendapatkan penghasilan karena penghasilan saya sudah tercukupi dari uang saya yang "bekerja" mendapatkan penghasilan pasif.


Untuk meraih kebebasan finansial dari penghasilan pasif, saya mulai merintis usaha di bidang property dengan menyediakan jasa penyewaan rumah, menyewakan tanah untuk lahan usaha, persewaan mobil dan mendirikan toko busana. Perlahan-lahan saya mencoba untuk memperbesar aset dalam bentuk tabungan di bank, deposito, emas, dan valuta asing.

Saya berusaha mengumpulkan harta produktif berupa rumah-rumah sewa. Untuk tujuan jangka panjang saya juga sedang berupaya untuk memiliki tanah yang luas sebagai lahan untuk mendirikan “mesin uang” keluarga…..

Inilah cara saya mendapatkan penghasilan pasif. Mungkinkah mimpi ini menjadi nyata? Ikuti pengalaman saya dalam mewujudkan mimpi itu ..... Simak tulisan saya di blog ini



01 Mei, 2009

Bisnis ..........

Sebelum saya torehkan tulisan ini, saya mohon maaf terlebih dahulu kepada para pembaca yang budiman bahkan seandainya pun tidak berkenan dihati dimohonkan tanggapan dan kritikan yang bersifat membangun.

Memang saya terlahir dari keluarga yang sederhana, orang tua saya (mama) pebisnis tulen dan bukan hanya dinegara republik indonesia saja dilakukan bisnis tersebut bahkan sampai kenegara-negara tetangga kita. Beliau adalah pedagang perhiasan (berlian, emas murni) seperti kita ketahui bersama bahwa perhiasan dari negara indonesia sangat terkenal bagus kualitas dan proses membentuknya pun sangat halus.

Pada saat itu keluarga saya cukup terpandang jika dilihat dari materi, namun kondisi itu tidak bertahan lama karena negara kita dilanda krisis moneter yang pernah mendapat peringkat paling tinggi didunia (750%) sehingga diseluruh pelosok negara kita benar-benar lumpuh perekonomiannya, kalau masih ingat uang Rp 100.000 ,- menjadi Rp 1,- bayangkan........


Sepuluh tahun kemudian, orang tua saya mencoba bangkit kembali melakukan bisnis yang berbeda dengan melakukan padat karya, bisnis inipun tidak memberikan prospek yang jelas, mungkin karena masih terobsesi dengan kondisi perekonomian yang masih labil, daya beli masyarakat juga masih sangat rendah. Tapi saya masih bersyukur karena papa saya mendapat pekerjaan dipemerintahan sehingga untuk kebutuhan sehari-hari dapat jatah dari kantor, namun harus makan beras jatah (beras bulgur).

Terlepas dari itu mama tidak tinggal diam, beliau terus mencari peluang-peluang bisnis yang dapat dilakukannya, tapi semuanya tidak berjalan mulus sehingga satu saat beliau sadar bahwa dunia bisnis itu tidak bisa menjamin, sehingga ia memutuskan tidak akan melakukan bisnis lagi.
Setelah saya duduk dibangku kuliah, saya mencoba untuk merenungi pengalaman mama saya tersebut, dimana letak kegagalannya?

Ternyata permasalahan yang paling substansi kegagalan itu adalah :

1. Bisnis itu dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai rasa tega

2. Harus mempunyai jiwa
enterepreneur
3. Bisnis apapun harus didasari oleh keuntungan

4. Kolega harus sama seperti kita
5.
Time value of money

Saya sampai sekarang ini tidak pernah mempunyai jiwa seperti yang tertera diatas, sehingga saya tidak akan pernah melakukan bisnis. karena bisnis itu tidak dapat menjamin kelanggengan dalam hidup yang tentram, damai dan kejujuran.


*